Agar tidak hilang begitu saja, maka ikatlah ilmu itu dengan cara menuliskannya.

 

 


 
Home | Produk | Alamat Kontak | Management | Bisnis Link | Artikel Teknik


MENGAPA HARUS DIGITAL

Dalam sebuah symposium yang diselenggarakan di Genewa pada tanggal 17 Juni 2006, sebuah organisasi telekomunikasi internasional ITU (International Telecommunication Union) membuat sebuah keputusan yang sangat penting tentang siaran televisi, yaitu siaran TV analog di seluruh dunia akan dihentikan pada tanggal 17 Juni 2015 dan kemudian digantikan dengan siaran TV digital.

Mengapa harus diganti digital? Apakah siaran TV analog tidak bagus?

Benar bahwa sudah lebih dari 60 tahun pemancar TV analog telah membuktikan kinerjanya yang sangat baik. Namun ketika teknologi digital telah terbukti lebih unggul, maka pemancar TV dengan sistem modulasi analog itu memang sudah selayaknya untuk diganti.

Alasan paling utama penggantian ini adalah: demi efisiensi atas pendudukan spektrum frekuensi radio. Sebab frekuensi radio adalah sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui, sehingga keberadaannya haruslah dimanfaatkan se-efisien mungkin. Nah satu-satunya cara yang mampu melakukan efisiensi ini adalah teknologi digital. Dengan teknologi digital, satu slot frekuensi yang semula hanya bisa digunakan untuk menyiarkan satu program siaran TV analog, kini bisa digunakan untuk menyiarkan 12 program televisi secara bersamaan.

Analoginya mirip dengan gedung bertingkat di kota besar, dimana kebutuhan akan tanah untuk tempat tinggal menjadi langka maka solusinya adalah dibuat bertingkat. Sebidang tanah yang semula hanya bisa buat satu rumah, dengan teknologi gedung bertingkat maka bisa menjadi sekian banyak rumah. Jadi rebutan tanah dapat diselesaikan dengan teknologi gedung bertingkat. Maka senada dengan itu rebutan spektrum frekuensi radio dapat diselesaikan dengan teknologi digital.

Banyak pihak yang ingin dan mampu menyelenggarakan siaran TV namun tidak bisa mendapatkan izin siaran. Bukan karena Pemerintah tidak memberikan izin, tatapi karena slot frekuensinya yang tersedia memang terbatas. Oleh karena itu teknologi digital yang mampu memberikan solusi atas keterbatasan frekuensi itu membuat migrasi ke arah TV digital adalah sebuah keniscayaan.

Gambar-1: Ilustrasi perbandingan siaran TV analod Vs Digital
Sumber gambar: https://electronics.howstuffworks.com/digital-converter-box2.htm

 

DIGITAL DEVIDEN

Digital Deviden adalah sisa slot frekuensi yang diperoleh dari migrasi siaran TV digital. 

Selama ini telah dialokasikan sebanyak 40 slot frekuensi (40 kanal) untuk siaran TV analog. Tapi dalam prakteknya, hanya 20 kanal saja yang bisa digunakan. Sebab pemakaian kanal yang bersebelahan (adjacent channel) akan saling mengganggu. Sebagai contoh misalnya di Jakarta hanya kanal bernomor ganjil saja yang digunakan, sedangkan kanal bernomor genap tidak bisa digunakan. Ini berarti dari 40 kanal yang tersedia hanya separonya saja yang bisa digunakan, sedangkan separonya lagi seperti terbuang sia-sia. Inilah yang membuat siaran TV analog disebuat sangat boros dalam hal pemakaian frekuensi. 

Teknologi digital kemudian hadir untuk menyelesaikan masalah pemborosan frekuensi itu. Selain satu kanal bisa digunakan untuk menyiarkan 12 program secara bersamaan, kanal yang bersebelahan pun sekaligus juga bisa digunakan tanpa saling mengganggu. Dengan demikian terjadilah penghematan besar-besaran terhadap jumlah pemakaian frekuensi untuk siaran TV ini. Itulah sebabnya migrasi siaran TV dari analog ke digital menjadi mutlak dilakukan.

Kemudian telah diputuskan bahwa untuk siaran TV digital cukup dialokasikan sebanyak 18 kanal saja. Ini berarti, jika dihitung secara linier untuk siaran TV kualitas SD (standar definition), akan ada sebanyak 18 x 12 = 216 program siaran TV kualitas SD yang bisa disiarkan secara bersama-sama. Namum bila untuk siaran kualitas HD atau kombinasi SD dan HD maka bisa menjadi separonya atau kurang dari itu. Jumlah program siaran sebanyak itu dirasa sudah lebih dari cukup.

Selanjutnya telah diputuskan juga sebanyak 5 kanal dialokasikan untuk keperluan siaran khusus, 3 kanal untuk dinding pemisah (guard band) dan sisanya sebanyak 14 kanal (atau bandwidth sebesar 14 x 8 MHz = 112 MHz) ditujukan untuk telekomunikasi khusus. Bandwidth sisa sebesar 112 MHz inilah yang disebut Digital Deviden. Inilah slot frekuensi yang ditunggu-tunggu untuk diperebutkan oleh para operator seluler untuk menggelar layanan wireless broadband.

Gambar-2: Perbandingan alokasi frekuensi untuk siaran TV digital dan analog

----------------------------------------------

ALOKASI FREKUENSI UNTUK PEMANCAR TV ANALOG (PAL B/G)

CATATAN:

*.......Di Indonesia, VHF Band-III hanya dialokasikan untuk Lembaga Penyiaran Publik (TVRI)
** .....Dalam lampiran Kepmen No.76 tahun 2004, kanal 21 tidak ada.
***....Penambahan kanal 62 adalah untuk menggantikan pengurangan kanal 21 tersebut di atas.

Jumlah total = 40 kanal (kanal 22 s/d kanal 62). Dalam prakteknya, pada siaran TV analog kanal yang berdekatan (adjacent channel) tidak bisa digunakan karena saling mengganggu. Sekedar contoh pemancar RCTI Jakarta menggunakan kanal 43, maka kanal 42 dan 44 (genap) tidak bisa digunakan (oleh pemancar TV lain). Kanal yang bisa digunakan adalah 41 atau 45 (ganjil). Dengan demikian dari 40 kanal yang tersedia, hanya setengahnya saja yang bisa dimanfaatkan.

Ditulis oleh Dwi Ananto Widjojo @ PT. Dua Wijaya Teleinformatika © 2009 - 2016