Agar tidak hilang begitu saja, maka ikatlah ilmu itu dengan cara menuliskannya.


 
Home | Produk | Alamat Kontak | Management | Bisnis Link | Artikel Teknik


Centralized Editing

Bahan baku editing adalah materi program (content). Tanpa materi ini tidak ada yang bisa diedit. Materi yang akan diedit bisa saja masih dalam bentuk pita cassete, memory card dan ada pula materi yang harus direkam terlebih dahulu. Semua materi ini harus di-ingest (dijadikan file digital untuk disimpan ke dalam hardisk) agar bisa diedit secara Non-Linier. Ada beberapa cara untuk meng-ingest materi sebagaimana telah dijelaskan dalam bab sebelumnya: Non-Linier Editing (NLE).

Untuk memudahkan akses, material edit dan material pendukung lainnya seperti: graphic, illustrasi musik dan narasi, selanjutnya disimpan semua ke dalam Central Storage. Oleh karena itu Central Storage ini harus memiliki kapasitas penyimpanan data yang cukup besar dan bisa up-grade menjadi lebih besar lagi untuk memenuhi kebutuhan ke depan.

Meskipun demikian walaupun kapasitas Central Storage itu sudah didesign cukup besar tapi lama kelamaan akan penuh juga. Padahal materi-materi baru terus menerus di-ingest setiap hari. Maka untuk mengatasi masalah kapasitas penyimpanan file ini hanya ada 2 pilihan: dihapus atau dipindahkan. Jelas pilihan pertama adalah yang paling mudah. Tapi untuk file-file yang penting tidak boleh dihapus begitu saja. Jadi harus dipindahkan. Jika harus dipindahkan maka file-file ini harus diperlakukan sesuai kaidah-kaidah yang berlaku di sebuah perpustakaan (Library).

 

Gambar 1: Diagram post production menggunakan sistem centralized editing. Perbesar Gambar.

Gambar 1 memperlihatkan contoh mekanisme kerja editing dengan sistem file yang tersentralisasi (Centralized Editing) dimana semua material editing diletakkan di satu Server berkapasitas besar sebagai pusat penyimpan data (Central Storage). Central Storage ini (poin 2) kemudian melayani unit-unit yang terhubung dengannya agar bisa menyimpan, mengambil atau memproses data yang ada di dalamnya. Dengan cara ini maka seluruh proses editing semuanya dapat di lakukan secara on line, mulai dari proses ingest (poin 1A) hingga materi siap tayang (poin 5) dan akhirnya materi itu disimpan di Libary (poin 6).

1A. Proses Ingest. Materi-materi yang berasal dari luar di-ingest melalui video card ke dalam Ingest Server. Materi yang berupa pita cassete di-ingest menggunakan VTR, sedangkan materi yang berasal dari studio di-ingest dari port ouput Video Switcher, dan materi yang berasal dari satelit di-ingest dari output IRD (Integrated Receiver Decoder).

Dalam satu unit Ingest Server bisa dipasang satu, dua atau empat port SDI input, tergantung kebutuhan. Sebuah PC yang berfungsi sebagai Ingest Manager diperlukan untuk mengatur / mengendalikan proses ingest itu. Setiap materi yang di-ingest akan diubah menjadi file dan kemudian dikirim ke Central Server untuk disimpan di sebuah folder yang telah dibuat sebelumnya. Sesaat setelah di-ingest, file-file tersebut bisa langsung dilihat oleh semua komputer NLE yang terhubung ke Central Storage. Ini berarti materi tersebut sudah siap untuk di edit.

1B. Suara Narator. Sementara itu suara narator diproduksi di ruang Audio Production. Di sini suara narator direkam dan sekaligus juga bisa di edit untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Hasilnya kemudian dikirim ke Central Storage dan disimpan di sebuah folder yang sudah ditentukan, dan setiap komputer NLE dapat mengakses semua file-file audio intu. Software aplikasi yang paling populer untuk kebutuhan Audio Production ini diantaranya adalah Pro-Tools dan Nuendo.

1C. Graphic. Demikian pula dengan gambar-gambar graphis. Gambar-gambar graphic ini diproduksi di ruang graphic. Temanya tergantung pesanan, tetapi content kreatifnya digarap oleh Graphic Designer itu sendiri. Dalam satu judul program, sering kali diperlukan banyak gambar-gambar graphic. Jadi tidak hanya satu, tapi banyak. Oleh karena itu gambar-gambar graphic itu bisa saja dikerjakan oleh beberapa orang Graphic Designer sekaligus. Setelah selesai, gambar-gambar graphic itu kemudian dikirim ke Central Storage dan disimpan di sebuah folder yang telah disepakati. Dengan begitu gambar-gambar graphic tersebut bisa diakses oleh setiap komputer NLE untuk dimasukkan ke dalam materi program yang sedang dikerjakannya. Software graphic yang paling populer di kalangan para Video Editor diantaranya adalah Adobe Photoshop, Adobe Illustrator dan Adobe After Effect yang dibundle dengan software video editing Adobe Primiere Pro dalam satu kemasan produk yang diberi label Adobe Creative Suite.

2. Central Storage. Central Storage berfungsi sebagai pusat penyimpan data, baik itu berupa file audio, video maupun gambar-gambar graphic. Central Storage ini harus mampu membaca dan menyimpan data dengan sangat cepat untuk melayani semua komputer yang terhubung dengannya. Selain itu Central Storage juga harus handal dan memiliki sistem back up yang baik agar semua data yang tersimpan di dalamnya benar-benar aman.

Salah satu cara untuk memenuhi persyaratan itu misalnya dengan menerapkan konfigurasi RAID-5. Sebab konfigurasi RAID-5 merupakan optimalisasi antara kapasitas, kecepatan akses dan back up pada suatu susunan dari sekian banyak hardisk.

Sebagai contoh misalnya video storage dari EditShare (www.editshare.com). Salah satu produk EditShare menggunakan 16 buah hardisk yang masing-masing berkapasitas 500 GB. Konfigurasi RAID-5 lalu diterapkan di sini. Maka kapasitas total yang seharusnya 8 TB akan turun menjadi 7.5 TB sehingga seolah-olah Storage kehilangan satu buah hardisk. Namun kehilangan satu hardisk ini akan membuatnya memiliki fungsi back up yang tinggi. Maksudnya, bila salah satu dari 16 hardisk itu tiba-tiba rusak, maka sistem secara keseluruhan masih tetap berfungsi normal. Hanya kapasitasnya saja yang menurun, karena salah satu hardisknya rusak. Lalu ketika hardisk yang rusak itu dicabut dan diganti dengan yang baru, maka secara otomatis sistem akan melakukan recovery, dan dalam waktu yang relatif singkat sistem akan pulih seperti sediakala. Sementara itu sistem ini juga mampu menyediakan kecepatan akses yang tinggi, yaitu sekitar 6 Gbps (membaca) dan 3.6 Gbps (menyimpan). Makin banyak jumlah hardisk dalam suatu sistem, akan makin tinggi pula kecepatan aksesnya. Oleh karena itu salah satu cara untuk meningkatkan kecepatan akses adalah dengan menambah jumlah hardisk.

3. Gigabit Ethernet. Tingginya kecepatan akses di Central Storage harus diimbangi dengan bandwidth / kapasitas dari jaringan yang digunakan. Jaringan ethernet dengan kapasitas 1 Gbps dirasa sudah cukup untuk setiap komputer. Tapi tidak cukup untuk koneksi ke Central Storage. Oleh karena itu khusus untuk akses ke Sentral Storage diperlukan jalur khusus berkecepatan 10 Gbps. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi kecepatan membaca dan menyimpan data di dalam Central Storage itu sendiri dan sekaligus agar Storage itu mampu melayani sekian banyak komputer yang mengaksesnya pada saat yang bersamaan. Perangkat Gigabit Ethernet Switch yang memiliki fasilitas koneksi 10 Gbps diantaranya adalah Cisco 3560E atau HP ProCurve.

4. Komputer NLE. Sesaat setelah di-ingest materi sudah siap untuk diedit di komputer NLE. Suara narator, graphic dan gambar-gambar video lain, tinggal dicari di Central Storage. Dengan demikian proses editing akan menjadi lebih cepat karena materi-materi untuk pengkayaan content, semuanya sudah tersedia di Central Storage. Jadi tidak perlu lagi mencar-cari file dari beberapa sumber yang berbeda-beda. Inilah keunggulan utama dari sistem Centralized Editing.

Sekedar tambahan bahwa komputer NLE bisa dimanfaatkan untuk ingest, karena materi yang tersimpan dalam memory card hanya bisa di-ingest di komputer NLE ini, sedangkan Ingest Server hanya bisa meng-ingest materi melalui port SDI.

Tambahan satu lagi, file audio dalam bentuk CD juga harus diingest di komputer NLE. File audio berupa koleksi lagu atau background musik ini selanjutnya dikirim ke Central Storage untuk disimpan dalam satu folder yang sudah ditentukan, dimana setiap editor yang membutuhkan tinggal mengambilnya dari folder ini.

5. On Air Storage. Setelah proses editing selesai maka hasil akhinya (sering disebut master edit) dikirim ke On-Air Storage untuk didaftarkan ke dalam Playout Server sebelum ditayangkan oleh software On-Air Automation. Dengan catatan bahwa setiap master edit harus lolos dari Quality Control terlebih dahulu.

6. Library. Master edit boleh disimpan di On Air Storage atau Central Storage hanya dalam jangka waktu tertentu. Ketika jangka waktu ini telah dilampaui maka file master edit itu harus segera dipindahke ke Library. Tujuannya adalah agar supaya Storage itu tidak terlalu penuh sehingga bisa ditempati oleh file-file berikutnya. Bila suatu saat dibutuhkan lagi, maka file tersebut dapat di-restore kembali dari Library lalu dimasukkan ke dalam Central Storage untuk diproses lebih lanjut.

Pemindahan file ke Library perlu dilakukan karena bagaimanapun juga kapasitas Storage pastilah ada batasnya. Setiap hari banyak sekali materi yang masuk silih berganti hingga lama-kelamaan pasti akan penuh. Oleh karena itu file-file lama dan yang sudah jarang diakses harus segera dipindahkan ke Library. Di Library file-file tersebut kemudian dipindahkan ke dalam tape berkapasitas besar, misalnya LTO-5 (Linier Tape Open generasi 5).

Media penyimpan berupa LTO-5 ini, dipilih karena kapasitasnya besar, demensinya kecil dan harganya murah. LTO generasi 5 memiliki kapasitas sebesar 1500 GB. Ini berarti setara dengan 10 buah cassete HDcam type L. Sebab satu cassete HDcam tipe L (large) maksimum hanya mampu menyimpan video berkualitas HD sepanjang 124 menit, atau kira-kira setara dengan 150 GB data. Dengan kata lain kapasitas LTO-5 ini sama dengan 10 buah cassete HDcam. Namun ukuran fisik LTO-5 lebih kecil dibanding HDcam, kurang dari separonya (perhatikan gambar 2). Dengan demikian penyimpanan materi video ke dalam LTO-5 jelas akan banyak menghemat banyak ruang. Dan itu berarti juga akan banyak menghemat listrik untuk pendingin / pengering udara di ruang Library.

Gambar 2: Perbandingan dimensi cassete HDcam dan LTO-5

Semua file yang berada dalam lingkup Centralized Editing ini, mulai dari ingest hingga Library, tentu harus memiliki identitas yang unik agar kelak bagi siapa saja yang membutuhkannya dapat mencarinya dengan mudah. File-file ini tentu tidak perlu disimpan jika isinya tidak penting. Oleh karena itu sedemikian pentingnya file-file ini untuk disimpan hingga kemudian dikategorikan sebagai asset. Maka untuk mengelola asset digital sebanyak ini diperlukan sebuah sistem yang sering disebut MAM (Media Asset Management).

Pada prinsipnya MAM adalah sebuah sistem yang mencatat dan memberi identitas pada setiap file agar mudah ditemukan. Hasil pencarian itu kemudian ditampilkan dalam bentuk audio visual sesuai aslinya. Namun sama seperti mesin pencari pada umumnya, diman akan muncul cukup banyak opsi dari hasil pencarian itu. Maka file-file itu harus dibuka satu persatu untuk memastikan apakah benar file itu yang sedang dicarnya. Oleh karena itu makin spesifik kata kunci (atau Metadata) yang dimasukkan ke dalam file itu pada saat pertama kali disimpan, akan makin mudah file itu ditemukan.

Artikel sebelumnya: Linier Editing dan Non Linier Editing
Artiket selanjutnya: On Air Automation dan Newsroom Automation

Ditulis oleh Dwi Ananto Widjojo @ PT. Dua Wijaya Teleinformatika © Mei 2012