Agar tidak hilang begitu saja, maka ikatlah ilmu itu dengan cara menuliskannya.


 
Home | Produk | Alamat Kontak | Management | Bisnis Link | Artikel Teknik


Editing Linier

Di jaman dulu yang namanya alat penyimpan data (memory digital) adalah sebuah perangkat elektronik yang sangat langka dan mahal. Itulah sebabnya satu-satunya media penyimpan data elektronik yang tersedia adalah pita magnetik. Sebab pita magnetik mudah diproduksi secara masal sehingga harganya menjadi murah. Sinyal audio dapat disimpan ke dalam pita magnetik dengan bantuan sebuah mesin yang disebut dengan Tape Recorder, dimana hasil rekamannya ini nantinya dapat diputar ulang untuk didengar kembali. Demikian pula dengan video. Sinyal video yang berasal dari kamera dapat disimpan ke dalam pita magnetik dengan bantuan sebuah mesin perekam yang disebut dengan Video Tape Recorder (VTR) dimana hasil rekamannya ini nantinya juga bisa diputar ulang untuk dilihat kembali apa yang tadi telah direkam.

Gambar 1: Contoh pita cassete standar untuk (a) audio kelas konsumen dan (b) video kelas broadcast

Cukup banyak jenis cassete audio yang beredar di pasar, namun secara de facto Compact Cassete hasil inovasi Phillips yang akhirnya menjadi standar media penyimpan audio analog untuk kelas konsumen. Demikian pula dengan cassete video. Cukup banyak jenis cassete video yang beredar dipasar. Namun secara de facto cassete Betacam SP buah karya SONY yang akhirnya diakui sebagai standar media penyimpan video analog untuk keperluan broadcast. Gambar 1 memperlihatkan contoh kedua jenis cassete yang telah menjadi standar internasional tersebut.

Berdasarkan fakta ini maka mudah dipahami bahwa pada masa itu proses editing audio-visual dilakukan dengan menggunakan mesin-mesin pemutar cassete, dimana satu mesin berfungsi sebagai alat pemutar (player) dan satu mesin lainnya sebagai alat perekam (recorder). Pada proses ini, gambar-gambar yang diperlukan diputar ulang di mesin pemutar, misalnya mulai dari Time Code A:A:A hingga Time Code B:B:B. Gambar ini kemudian direkam lagi di mesin perekam. Selanjutnya gambar berikutnya dicari di mesin pemutar hingga ketemu gambar yang dibutuhkan. Setelah ketemu lalu diputar, misalnya mulai dari Time Code C:C:C hingga D:D:D. Gambar ini kemudian juga direkam lagi di mesin perekam dan merupakan sambungan dari gambar sebelumnya. Demikian seterusnya hingga di mesin perekam akan muncul urutan gambar mulai dari Time Code A:A:A - B:B:B lalu C:C:C - D:D:D dan seterusnya. Proses penyambungan gambar-gambar ini kemudian disebut dengan Editing Linier. Lalu berhubung yang dihasilkan adalah berupa urutan dari potongan-potongan gambar, maka sering juga disebut dengan Editing Cut-to-Cut. Kemampuan menyambung gambar secara Cut-to-Cut seperti ini merupakan keahlian dasar bagi seorang Editor.

Gambar 2: Diagram Editing Linier dengan sistem A/B Roll.

Dalam proses editing, sering kali diperlukan beberapa tambahan gambar untuk memperkaya hasil akhir. Namun gambar-gambar tambahan ini sering kali tersimpan dalam pita cassete yang berbeda-beda. Itulah sebabnya diperlukan mesin pemutar kedua (B) untuk memperrmudah penambahan gambar tanpa harus mengeluarkan pita cassete yang sudah ada di mesin pemutar pertama (A). Dengan demikian setiap kali perlu tambahan gambar dari cassete lain maka cassete ini cukup dimasukkan ke dalam mesin pemutar kedua (B). Proses editing yang seperti ini disebut dengan sistem A/B Roll, karena ada dua mesin pemutar yang diberi label A dan B (perhatikan gambar 2). Meskipun demikian A/B Roll masih termasuk Editing Cut-to-Cut, karena pada dasarnya hanya menyambung potongan-potongan gambar saja walaupun sumber gambarnya berasal dari dua mesin pemutar yang berbeda.

Selama proses editing diperlukan seperangkat alat untuk keperluan monitoring dan quality control. Untuk itu masing-masing mesin memiliki video monitor yang berfungsi untuk memonitor content dari cassete yang ada didalam mesin. Kemudian pada mesin perekam ditambahkan sepasang audio monitor dan alat ukur berupa: Waveform, Vectorscope dan Audio Phase Monitor (perhatikan gambar 2). Audio monitor berfungsi untuk mendengarkan suara, Waveform untuk mengukur level sinyal video, Vectorscope untuk mengukur sudut fasa sinyal chroma, sedangkan Audio Phase Monitor untuk mengukur level dan beda fasa sinyal audio kiri (L) dan kanan (R). Alat ukur seperti ini merupakan peralatan standar yang harus tersedia di setiap ruang editing dan merupakan sarana yang sangat vital dalam mengontrol kualitas gambar maupun suara (Quality Control). Sebab mata dan telinga manusia tidak akan mampu mengukur level dan sudut fasa sinyal (audio maupun video) sesuai standar yang telah ditetapkan, sehingga alat ukur ini menjadi mutlak diperlukan.

Dalam proses editing, sering juga diperlukan penambahan suara ke dalam gambar, dalam bentuk misalnya background music atau suara Narator. Untuk itu diperlukan alat pemutar rekaman suara, seperti Tape Recorder atau CD player. Suara Narator sering kali dibuat di ruang editing sebagai bagian dari proses Pasca Produksi. Dalam sistem Editing Linier biasanya suara Narator ini langsung direkam kedalam tape menggunakan mesin VTR, karena VTR memang sebuah mesin perekam dan Timing-nya mudah dikontrol secara presisi dibanding (audio) Tape Recorder. Tapi untuk keperluan rekaman suara ini dibutuhkan Microphone dan Audio Mixer. Kemudian agar hasilnya lebih bagus, Narator perlu ditempatkan di ruang khusus yang kedap suara (Audio Booth). Jadi Tape Recorder, CD Player, Audio Mixer, Microphone (dan Headphone) serta Audio Booth merupakan peralatan standar dalam proses editing (Pasca Produksi).

Pada tingkat lanjut, proses editing tidak hanya menyambung potongan-potongan gambar saja, tetapi sekaligus juga memberi efek-efek tertentu pada gambar. Misalnya efek transisi (Disolve, Wipe, Fade to Black dlsb). Kemudian memberi garis pinggir atau Border dengan berbagai bentuk, warna, dan ketebalan. Gambar juga bisa disamarkan dengan memberinya efek Mosaic yang bermacam-macam. Lalu dengan memanfaatkan fasilitas Key dan Fill, gambar kecil bisa disisipkan ke dalam gambar utama. Dengan fasilitas Key dan Fill ini bisa juga dimasukkan teks, sub-title, CG/Graphic dan lain sebagainya. Pada tingkatan seperti ini perangkat Editing Cut-to-Cut maupun A/B Roll tidak bisa lagi digunakan, karena untuk melakukan fungsi-fungsi seperti itu diperlukan Video Switcher dan Digital Video Effect (DVE). Sebab hanya teknologi digital saja yang mampu memanipulasi sinyal dan menghasilkan efek-efek gambar seperti itu. Salah satu contoh produk yang memenuhi kebutuhan ini misalnya adalah Sony BVE-700, dimana perangkat ini terdiri dari sebuah Controller dan sebuah Base Station (lihat gambar 3). Controller berfungsi sebagai alat pengendali mesin-mesin pemutar cassete dan sekaligus Base Station, sedangkan Base Station itu sendiri berisi Video Switcher dan rangkaian Digital Video Effect (DVE).

Gambar 3: Editing Control Unit: Sony, BVE-700.

Artikel selanjutnya: Editing Non-Linier

Ditulis oleh Dwi Ananto Widjojo @ PT. Dua Wijaya Teleinformatika © Mei 2012