Agar tidak hilang begitu saja, maka ikatlah ilmu itu dengan cara menuliskannya.


 
Home | Produk | Alamat Kontak | Management | Bisnis Link | Artikel Teknik


Non Linier Editing (NLE)

Non Linier Editing dipicu oleh kemajuan teknologi PC (Personal Computer) yang makin tinggi kemampuannya namun makin terjangkau harganya. Sebuah PC dengan processor Pentium-4 dan RAM 1GB sudah cukup bagus untuk digunakan sebagai mesin editing untuk video kualitas SD (Standard Definition). Namun pada waktu itu sinyal audio-video masih tersimpan di dalam pita magnetik, sehingga harus diubah menjadi file digital agar bisa diedit di dalam sebuah PC. Fungsi digitasali sinyal ini dilakukan oleh Video Card yang dipasang di PC tersebut. Selanjutnya dengan software khusus proses editing dapat dilakukan cukup dengan sebuah PC. Inilah yang disebut dengan Non Linier Editing (NLE) mengingat proses editing di sini tidak lagi menyambung satu gambar dengan gambar yang lain melainkan dengan memanipulasi data (yang ada di dalam hardisk) untuk dijadikan file baru. File baru ini selanjutnya bisa diprint ke dalam pita magnetik atau kedalam keping DVD agar mudah dikirim ke tempat lain untuk diputar atau ditayangkan.

Di era digital dimana pita magnetik tidak lagi menyimpan sinyal analog melainkan sudah digital, maka banyak Video Card yang tidak lagi berfungsi sebagai pen-digital-isasi sinyal, tetapi berfungsi sebagai jembatan antara VTR dengan PC, dimana VTR mengeluarkan sinyal digital dalam format SDI (Serial Digital Interface) sementara Video Card akan mentransfer sinyal tersebut agar bisa disimpan ke dalam har disk. Namun masih banyak juga ditemukan Video Card yang memiliki dua fungsi itu, yaitu sebagai pendigitalisasi sinyal analog tapi juga bisa berfungsi sebagai interface untuk sinyal SDI.

Proses memasukkan sinyal video dari luar ke dalam hardisk komputer seperti itu sering disebut dengan ingest. Sinyal video dari luar yang dimaksud bisa berasal dari misalnya: Kamera, Satelit Receiver, Fiber Optic Decoder, VTR dan Card Reader. Khusus untuk ingest dari VTR diperlukan suatu mekanisme khusus yang mampu mengontrol VTR itu langsung dari komputer. Misalnya fungsi playback, stop, fast forward, rewind dan record (atau print to tape) tidak perlu lagi menekan tombol-tombol di VTR, tetapi cukup dengan meng-klik tombol-tombol yang telah tersedia di layar monitor komputer. Software yang digunakan untuk keperluan ini umumnya merupakan bawaan dari Video Card atau merupakan salah satu feature dari software editing, sedangkan saluran yang digunakan untuk mengendalikan VTR itu dari komputer umumnya menggunakan RS-422 (perhatikan gambar 1).




Gambar 1: Salah satu contoh konfigurasi NLE

Seiring dengan makin populernya pita cassete DV maka konfigurasi pengendalian VTR dari komputer tidak lagi menggunakan saluran RS-422 tetapi data kontrol langsung menjadi satu dengan saluran audio-video melalui satu saluran yang diberi nama Firewire (IEEE 1394). Firewire Card kemudian bersaing ketat dengan Video Card.

Keunggulan utama Firewire adalah pemindahan sinyal video ke dalam komputer NLE dapat dilakukan langsung dari kamera. Sebab sinyal kontrol sudah menjadi satu dengan sinyal audio-video. Padahal selama ini belum pernah ada kamera yang dilengkapi dengan port RS-422. Dengan munculnya Firewire saluran RS-422 menjadi tidak diperlukan lagi. Inilah salah satu pendorong utama yang membuat popularitas Non Linier Editing semakin mencuat. Sebab cukup dengan satu kamera miniDV dan satu PC saja maka sudah mampu menghasilkan berbagai macam content audio visual yang layak tayang, meskipun bagus tidaknya hasilnya masih tetap tergantung dari kecakapan individu dibelakangnya.

Cukup banyak software editing yang bisa dipilih. Mulai dari kelas professional hingga kelas pemula. Bahkan banyak juga software editing yang bisa di download dari internet secara gratis. Namun untuk kelas profesional, ada 4 nama yang paling banyak digunakan, yaitu:

        1. Adobe Premiere            http://www.adobe.com/sea/products/premiere.html
        2. Apple Final Cut Pro       http://www.apple.com/finalcutpro
        3. AVID                                 http://www.avid.com/products/mediacentral/mediacentral-edit
        4. Sony Vegas                    
http://www.vegascreativesoftware.com/int/

Pada perkembangan berikutnya media penyimpan digital (memory card) juga berkembang sangat pesat. Dengan kapasitas dan kemampuan yang tinggi serta harganya yang makin terjangkau membuat memory card lebih disukai, karena:

        1. Bisa digunakan berulang-ulang (tidak seperti pita magnetik yang punya batas perekaman ulang)
        2. Tidak memerlukan mesin mekanik yang rumit sebagaimana yang digunakan pada pita cassete
        3. Mudah disimpan dan tidak terpengaruh oleh medan magnet disekitarnya
        4. Awet dan tahan lama karena bahan bakunya adalah semikonduktor

Secure Digital card atau SD card yang semula ditujukan untuk tustel (kamera foto) kini telah banyak digunakan pada kamera video. Sebab kapasitasnya sudah cukup besar dan kemampuan membaca / menyimpan data sudah sedemikian cepat. Sandisk Extreme Pro misalnya, kapasitasnya 64 GB dan diklaim mampu membaca dan menyimpan data hingga 90 MBps (= 760 Mbps). Dengan kecepatan transfer data setinggi ini maka SD card sangat layak digunakan untuk merekam sinyal video kelas HD sekalipun. Bahkan SD card tipe XC (Extreme Capasity) ini diproyeksikan akan mampu menyimpan data hingga 2048 GB.

Selain SD card, ada jenis solid state memory lain yang cukup populer di kalangan broadcaster, yaitu P2 (Professional Plugin) dari Panasonic dan SxS dari Sony. Kedua card ini mampu mentransfer data hingga 150 MBps (=1,2Gbps). P2 pada dasarnya dibangun dari SD card dengan konfigurasi RAID dan dilengkapi LSI controller sehingga kecepatan transfer datanya makin meningkat seiring dengan meningkatnya kapasitas memory. Sistem ini kemudian dibungkus dengan casing dan konektor standar PCMCIA agar kompatibel dengan slot PCMCIA pada PC. Sementara itu SxS card dirancang sedemikian rupa sehingga kompatibel dengan slot PCI Express. Dari sinilah kemudian SxS card (dibaca S-by-S card) sering disebut dengan Express Card. Tidak seperti P2 yang mentransfer data secara paralel, SxS Card mentransfer data secara serial sesuai dengan standar PCI Express.

Gambar 2: Beberapa contoh memory card yang populer. Klik di sini untuk memperbesar gambar

Berhubung kompatibel, maka baik P2 maupun SxS card bisa langsung dihubungkan ke komputer selama tersedia slot card yang sesuai. Tentu saja sofware drivernya harus diinstal terlebih dahulu. Dengan koneksi langsung ini maka akan diperoleh kecepatan transfer yang maksimal (1,2 Gbps). Namun jika tidak tersedia slot yang sesuai maka bisa digunakan bantuan Card Reader, dimana Card Reader ini kemudian dihubungkan ke komputer melalui port USB. Sayangnya, cara seperti ini akan menurunkan kecepatan transfer, karena dibatasi oleh spesifikasi USB (maks 480 Mbps untuk USB 2.0).

Pada waktu memory card berkapasitas 16 GB sudah banyak tersedia di pasar maka supremasi pita cassete miniDV sudah terkalahkan. Sebab cassete miniDV hanya mampu menyimpan video kelas SD sepanjang 60 menit, atau setara dengan kapasitas memori 13 GB. Artinya, dari sisi kapasitas, memory card 16 GB sudah lebih unggul dibanding miniDV. Walaupun dari segi harga memory card 16 GB masih lebih mahal dibanding miniDV. Demikian pula dengan video kelas HD. Cassete HDcam tipe S (small) maksimum hanya mampu menyimpan video HD sepanjang 40 menit, atau setara dengan kapasitas memori 50 GB. Maka memory card berkapasitas 64 GB dengan sendirinya telah mengungguli cassete HDcam, meskipun dari segi harga memory card 64 GB masih lebih mahal dibanding pita cassete HDcam. Namun seiring dengan berjalannya waktu memory card semakin hari semakin populer dan harganyapun semakin murah.

Gambar 3: Beberapa contoh variasi video capture ke dalam komputer NLE

Dengan adanya beberapa pilihan media penyimpan itu maka makin beragam pula cara memasukkan sinyal video ke dalam komputer NLE. Gambar 3 memperlihatkan beberapa variasi dari video capture ini. Dalam gambar ini editing dilakukan di satu komputer yang berdiri sendiri (stand alone). Artinya, komputer NLE ini tidak terhubung dengan komputer lain.

NETWORKED EDITING

Dalam proses editing selalu diperlukan pengkayaan content berupa: gambar-gambar dari sumber lain, graphic 2D atau 3D, foto-foto, suara narator, background music, audio effect dlsbg. Semua kebutuhan pengkayaan ini bisa saja dimasukkan ke dalam satu komputer NLE. Akan tetapi bekerja sendiri seperti ini akan menjadi tidak efisien. Itulah sebabnya komputer-komputer itu kemudian dihubungkan satu sama lain agar masing-masing komputer dapat melakukan pertukaran data dari satu komputer ke komputer lain. Gambar (4) memperlihatkan bagaimana peralatan paska produksi itu saling terhubung satu sama lain atau yang lebih dikenal dengan istilah: Networked Editing.

Gambar 4: Perangkat paska produksi yang terhubung satu sama lain (Networked Editing)

Selain itu kapasitas hardisk dalam sebuah komputer pastilah terbatas. Padahal bila satu komputer dijejali dengan flie-flie video yang berukuran besar-besar secara terus menerus dan setiap hari, maka lama kelamaan hardisknya akan penuh. Itulah sebabnya diperlukan sebuah penyimpan data berkapasitas besar yang mampu menampung sekian banyak file. Penyimpan data ini nantinya juga harus bisa di-up-grade kapasitasnya sebagai langkah antisipasi ke depan. Penyimpan data video atau video storage ini kemudian harus bisa diakses secara beramai-ramai oleh sekian banyak komputer NLE maupun perangkat paska produksi lainnya. Tujuannya adalah agar terjadi efisiensi dalam kerja kelompok. Misalnya, file-file yang sering dibutuhkan tidak lagi harus di simpan di masing-masing komputer, tetapi cukup di simpan dalam satu storage. File-file penting tidak perlu lagi dicari siapa yang menyimpannya, tetapi cukup dilihat ketersediaannya di storage.

File video yang sedang diedit bahkan tidak perlu harus berada di hardisk lokal komputer NLE itu, tetapi bisa tetap berada di dalam storage yang terpisah. Bahkan satu file yang sama bisa diedit di dua komputer NLE yang berbeda. Misal, materi berdurasi 60 menit bisa dipecah menjadi dua dimana bagian pertama dari materi itu di edit dari komputer NLE-1 dan bagian kedua diedit dari komputer NLE-2. Setelah selesai, hasil keduanya lalu disambung untuk dijadikan satu file baru. Proses editing seperti ini kemudian dikenal dengan istilah editing terpusat (Centralized Editing) mengingat semua file yang akan diedit berada di satu pusat penyimpanan file (Central Storage). Bekerja secara kolaborasi dalam satu sistem yang tersentralisasi seperti ini jauh lebih efisien dibanding bekerja secara individu dan efisiensinya akan semakin tinggi bila jumlah perangkat yang saling terhubung semakin banyak.

Artikel selanjutnya: Centralized Editing Artikel sebelumnya: Linier Editing

Ditulis oleh Dwi Ananto Widjojo @ PT. Dua Wijaya Teleinformatika © Mei 2012