Agar tidak hilang begitu saja, maka ikatlah ilmu itu dengan cara menuliskannya.


 
Home | Produk | Alamat Kontak | Management | Bisnis Link | Artikel Teknik


Studio: Video Work Flow

Salah satu cara memproduksi program untuk siaran TV adalah dengan menggunakan satu set peralatan yang sudah disusun sedemikian rupa sehingga mudah dioperasikan yang diletakkan di sebuah ruangan yang kemudian disebut Studio.

Di dalam studio ini terdapat tiga komponen utama, yaitu: Kamera, Monitor dan Switcher. Kamera berfungsi untuk mengambil gambar, Monitor untuk melihat gambar yang dihasilkan, sedangkan Switcher untuk men-switch atau memilih salah satu gambar yang berasal dari Kamera 1, Kamera 2, Kamera 3 dan seterusnya. Output dari Switcher lalu dikirim ke proses berikutnya, misalnya direkam atau dikirim ke pemancar untuk disiarkan. Ini adalah prinsip yang paling mendasar dari sebuah mekanisme kerja untuk menghasilkan program siaran (content).

Pertanyaan: mengapa diperlukan kamera lebih dari satu? Jawabannya adalah karena dengan banyak kamera maka obyek gambar bisa diambil dari beberapa sudut dalam waktu yang bersamaan agar cukup banyak gambar yang bisa dipilih untuk ditayangkan. Itulah sebabnya Switcher dibutuhkan agar penayangan gambar dari satu sudut ke sudut yang lain dapat dilakukan dengan cepat.

Selanjutnya setiap kamera diberi monitor satu persatu dengan tujuan agar operator Switcher dapat dengan mudah mengidentifikasi gambar mana yang paling tepat untuk ditayangkan. Seorang Program Director (PD) dapat meminta Cameraman (melalui Intercom) untuk mengarahkan kameranya ke satu obyek tertentu. Selanjutnya melalui monitor-monitor yang ada di Ruang Kontrol, PD dapat melihat apakah gambar yang diambil oleh kameraman itu sudah sesuai yang dia inginkan atau belum. Jika belum maka PD bisa memintanya lagi agar Cameraman melakukan adjustment hingga gambar yang dia maksudkan terpenuhi. Itulah sebabnya Intercom adalah sarana komunikasi yang sangat vital di dalam Studio.

Switcher selalu dilengkapi dengan port output untuk monitor Prewiev. Fungsinya adalah untuk memonitor gambar sebelum ditayangkan. Selanjutnya ketika sudah ditayangkan maka gambar itu dapat dilihat di monitor Progam. Video output yang dihasilkan oleh Switcher ini selanjutnya dibagi-bagi oleh VDA (Video Distribution Amplifier) ke beberapa tujuan. Diantaranya adalah ke Pemancar untuk disiarkan, ke Video Recorder untuk direkam dan ke Floor Monitor untuk monitoring. Floor Monitor ini berfungsi mirip cermin buat aktor, anchor atau MC yang sedang beraksi sehingga dia dapat melihat sendiri bagaimana penampilannya di layar TV.

Gambar (1) Diagram video flow untuk standar multi kamera. Perbesar gambar.

Untuk program-prgram yang bersifat formal seperti siaran berita misalnya, kamera sebanyak 3 unit adalah jumlah yang paling optimal sebagai alat prduksi. Sebab pada umumnya program berita disiarkan secara langsung sehingga dengan 3 kamera dapat dihasilkan sudut-sudut pengambilan gambar yang bagus dan pergantian gambar dari kamera satu ke kamera yang lain dapat dilakukan dengan cepat melalui Switcher. Selain itu, meskipun jumlah obyek gambar pada program ini lebih dari satu, misalnya 2 orang pembaca berita dan 1 orang nara sumber, namun obyek gambar itu relatif diam dan tidak berpindah-pindah tempat sehingga pengambilan gambarnya lebih mudah.

Berbeda sekali dengan program hiburan seperti Pentas Musik atau Fashion Show misalnya, dimana obyek gambarnya banyak, bergerak, berpindah-pindah tempat dan bersifat non formal, dalam arti pengambilan gambar tidak hanya dari depan atau samping tetapi bisa dari bawah, atas dan bahkan kameranya ikut bergerak. Dengan demikian jumlah kamera yang dibutuhkan untuk program seperti itu menjadi lebih banyak. Juga dibutuhkan Switcher dengan jumlah port input yang lebih banyak pula.

Dalam sebuah program, gambar yang bersumber dari kamera saja sering dirasa tidak mencukupi, karena informasi yang ditayangkan tidak akan lengkap tanpa tambahan data-data pendukung yang lengkap. Misalnya nama orang, tempat kejadian, judul peristiwa dlsbg. Oleh karena itu data-data pendukung yang ditampilkan bisa berupa tulisan, gambar-gambar grafis atau animasi-animasi ringan. Itulah sebabnya dibutuhkan CG (Character Generator = komputer pembangkit huruf) dan komputer graphic untuk memperkaya sebuah program agar menjadi lebih informatif dan menarik.

Selain itu dibutuhkan pula potongan-potongan program (video clip) untuk melengkapi isi dari program utama. Untuk itu dibutuhkan Playout yang dalam hal ini diwakili oleh Video Recorder. Sebab Video Recorder bisa difungsikan juga sebagai Playout. Umumnya Video Recorder ini dipasang 2 unit agar bisa digunakan secara bergantian, atau yang satu sebagai recorder dan yang satu lagi sebagai Playout, atau masing-masing berfungsi sebagai back up satu sama lain.

Dari uraian di atas maka menjadi jelas bahwa peralatan studio ini bisa digunakan untuk siaran langsung dan/atau rekaman (taping). Sinyal yang direkam tidak selalu berasal dari dalam studio, tetapi bisa juga dari luar studio. Misalnya hendak merekam siaran langsung sepak bola Liga Italia, dimana setelah direkam hasilnya akan ditayangkan keesokan harinya. Maka menjadi penting untuk menyediakan satu port input pada Switcher sebagai pintu masuk buat sinyal yang berasal dari luar.

SINKRONISASI

Ketika Switcher memindahkan sinyal input dari kamera 1 ke kamera 2, apa yang terjadi? Misalnya pada saat kamera 1 sedang melakukan scanning, dimana posisi scanning tepat berada di tengah layar, lalu switch pindah ke kamera 2, Lalu gambar yang setengah layar sisa dari kamera 1 tadi terus kemana?

Dalam kondisi seperti itu maka perpindahan gambar dari Kamera 1 ke Kamera 2 menjadi "jumping" (melompat), karena ada bagian gambar dari kamera 1 yang hilang dan tiba-tiba digantikan oleh gambar dari kamera 2 yang posisi scanningnya tidak diketahui. Melompatnya gambar satu ke gambar yang ini akan nampak jelas di layar sehingga mengganggu mata yang melihatnya. Oleh karena itu untuk menghindari masalah jumping ini maka kemudian diputuskan bahwa switch hanya akan berpindah pada saat scanning berada pada posisi blanking vertikal.

Akan tetapi p ada saat kamera 1 berada pada posisi blanking vertikal, apakah pada saat itu juga kamera 2 juga berada pada posisi blanking vertikal? Kemungkinan besar tidak, karena kamera 1 dan kamera 2 terpisah sama sekali dan di antara keduanya tidak ada sinkronisasi mengenai masalah waktu scanning. Oleh karena itu perpindahan gambar dari kamera 1 ke kamera 2 harus menunggu kedua-duanya berada pada posisi blanking vertikal.

Berhubung waktu blanking vertikal kedua kamera ini tidak sama (tidak sinkron), maka blanking vertikal kamera 1 harus menunggu blanking vertikal kamera 2 tiba, barulah pemindahan gambar bisa dilakukan. Lamanya waktu tunda ini adalah maksimum sebesar setengah frame (16 mili detik). Selama waktu tunda yang singkat ini, gambar dari kamera 1 harus dibekukan sesaat (freeze) sebelum digantikan oleh gambar dari kamera 2. Kejadian ini berlangsung sedemikian singkat (maks 16 mili detik atau 0.016 detik) sehingga efeknya tidak begitu kentara. Oleh karena itu Switcher dengan sistem freeze seperti ini masih cukup banyak digunakan mengingat harganya relatif murah.

Agar perpindahan gambar dari kamera 1 ke kamera 2 berjalan mulus, maka masing-masing kamera harus disinkronkan. Dengan kata lain timing dari pulsa sinkronisasi di kedua kamera itu harus persis sama. Tidak hanya blanking vertikal saja yang sama tetapi pulsa blanking horizontalnya juga sama. Untuk itu dibutuhkan sebuah pembangkit pulsa sinkronisasi (Sync Generator) dimana output pulsa sinkronisasi ini selanjutnya di-distribusi-kan melalui VDA ke semua kamera dan perangkat-perangkat lainnya sebagai pulsa referensi. Dengan demikian ketika Switcher berganti-ganti input maka perpindahan gambarnya akan berjalan dengan mulus. Sebab semua perangkat sudah terkunci (locked) oleh pulsa referensi yang berasal dari Sync Generator. Dari sinilah kemudian muncul istilah Genlock.

Khusus untuk sinyal yang berasal dari luar negeri, sebelum direkam atau ditayangkan harus dilewatkan terlebih dahulu ke Frame Synch (lihat blok pada gambar (2) yang berwarna biru). Oleh Frame Synch sinyal dari luar negeri itu akan di-capture kemudian dimodifikasi secara digital sedemikian rupa sehingga tidak hanya posisi blanking vertikal dan horizontalnya saja yang disinkronkan melainkan sekaligus jumlah framenya juga disinkronkan. Sekedar mengingatkan, bahwa jumlah frame untuk standar NTSC adalah 30 frame perdetik sedangkan untuk standad PAL adalah 25 frame perdetik.

Gambar (2) Diagram video flow untuk multi kamera studio tingkat lanjut. Perbesar gambar.

Setelah semua sinyal sudah sinkron lalu bagaimana cara menyamakan kualitas gambar dari tiga kamera itu? Ambil contoh misalnya 3 kamera masing-masing mengambil obyek yang sama, yaitu wajah seorang penyiar berita. Kamera-1 mengambil gambar dari ssisi kiri, kamera-2 dari sebelah kanan dan kamera-3 tepat dari depan. Apakah kualitasnya akan sama?

Hasilnya bisa berbeda-beda. Misalnya, wajah penyiar dari kiri terlihat sedikit lebih terang, sementara dari sudut kanan sedikit lebih kontras, sedangkan dari depan sedikit lebih merah, dan masih banyak lagi detail-detail lain yang bisa mengungkapkan perbedaan-perbedaan itu. Jadi walaupun ketiga kamera itu dari merk dan tipe yang sama, tapi gambar yang dihasilkan bisa berbeda-beda.

Perbedaan ini mungkin saja tidak kentara, tapi ketika dilihat melalui alat ukur barulah terlihat bedanya. Hal ini disebabkan karena masing-masing kamera di set secara sendiri-sendiri dan dengan menggunakan monitor yang berbeda-beda pula. Nah ketika outputnya disatukan dalam satu layar barulah terlihat bedanya.

Untuk mengatasi masalah perbedaan output dari kamera itu kemudian digunakan sebuah alat yang disebut CCU (Camera Control Unit). Melalui CCU inilah setiap kamera bisa diatur parameternya sedemikian rupa sehingga menghasilkan output yang sama (brightness, kontras dan corak warnanya benar-benar bisa dibuat sama).

Catatan: Itulah sebabnya jika kamera tidak dilengkapi dengan CCU maka sangat disarankan untuk tidak mengambil obyek gambar yang sama dari 2 kamera yang berbeda, karena bila mengambil obyek gambar yang sama lalu ada perbedaan diantara keduanya, maka perbedaan itu akan mudah sekali dilihat. Namun jika obyek gambar yang diambil berbeda, maka pastilah sulit untuk dibandingkan, karena obyek gambar yang dibandingkan berbeda. Lalu yang kedua, juga sangat disarankan untuk tidak menggunakan kamera dengan merk dan tipe yang berbeda. Sebab bila merk dan tipe kamera itu berbeda maka gambar yang dihasilkan oleh keduanya pasti berbeda.

MONITORING & QUALITY CONTROL

Untuk mengatur parameter kamera dalam sistem multi kamera digunakan alat bantu Waveform dan Vectorscope. Waveform untuk membantu mengukur kontras dan gelap-terangnya gambar (Luminance), sedangkan Vectorscope untuk membantu mengukur amplitudo dan sudut phasa dari sinyal warna (Chrominance).

Pada gambar (2) terdapat satu layar monitor berukuran besar, diamana dalam contoh ini lebar layarnya 42 inch. Monitor layar lebar ini dimaksudkan untuk mengurangi kebutuhan ruang, mengingat jumlah monitor yang dibutuhkan cukup banyak sehingga membutuhkan ruang yang cukup besar (perhatikan gambar 1 dengan sekian banyak monitor). Akan tetapi dengan menyatukan monitor-monitor itu ke dalam satu layar, maka kebutuhan ruang akan menjadi jauh berkurang. Selain itu pemasangan satu monitor, meskipun berukuran besar, secara praktis juga relatih mudah. Harganya pun kini juga relatif murah.

Namun untuk menyatukan monitor-monitor yang banyak itu ke dalam satu monitor diperlukan Multiviewer, yaitu sebuah peralatan elektronik yang berfungsi untuk menampilkan gambar dari sekian banyak input ke dalam satu layar. Di dalam Multiviewer terdapat fasilitas untuk mengatur posisi gambar, komposisi gambar dan label di setiap kotak gambar. Bahkan ada pula fasilitas untuk menampilkan Audio Level untuk memonitor level sinyal audio secara visual. Pada beberapa produk Switcher tertentu Multiviewer sudah termasuk di dalamnya, sehingga lebih praktis dalam peng-kabel-annya.

ROUTING SWITCHER

Pada gambar 2 terdapat satu blok yang diberi label Routing Switcher. Secara prinsip Routing Switcher itu sama dengan Switcher. Bedanya hanya terletak pada jumlah port outputnya saja, dimana Switcher outputnya hanya satu sedangkan Routing Switcher jumlah port outputnya bisa banyak (tergantung kebutuhan). Selain itu port output Routing Switcher dapat diatur secara dedicated (khusus terhubung hanya pada satu input saja) atau bisa juga diatur bebas agar bisa terhubung ke semua input.

Dalam kondisi darurat, misalnya Switcher mengalami gangguan secara tiba-tiba, maka Routing Switcher bisa berfungsi menggantikan Switcher. Hanya saja Routing Switcher hanya mampu melakukan fungsi switching saja tetapi tidak mampu melakukan fungsi mixing dan special effect (seperti: wipe, dissolve, squeeze, wrap dan lain sebagainya).

TELEPROMPTER

Dalam gambar (2) juga terdapat sebuah PC untuk Teleprompter, yaitu sebuah komputer yang dilengkapi dengan software pengolah kata dimana outputnya kemudian ditampilkan ke layar monitor yang diletakkan secara horizontal di depan Kamera. Di atas layar monitor ini lalu dipasang kaca tembus pandang dengan kemiringan 45 derajad sehingga tidak menghalangi Lensa Kamera tapi dapat memantulkan teks yang berasal dari layar monitor itu. Pantulan teks di kaca inilah yang kemudian bisa dibaca oleh Anchor atau Pembaca Berita sehingga terlihat seolah-olah mereka hafal di luar kepala tentang berita yang sedang disampaikannya. Padahal sebenarnya mereka sedang membaca teks yang tertera pada layar Teleprompter ini. Gambar (3) memperlihatkan diagram hubungan antara kamera dan Teleprompter.

Gambar (3): Diagram interkoneksi Teleprompter

Artikel selanjutnya:

Artikel sebelumnya: Cara Kerja Stasiun TV

Ditulis oleh Dwi Ananto Widjojo @ PT. Dua Wijaya Teleinformatika © Oktober 2011