Agar tidak hilang begitu saja, maka ikatlah ilmu itu dengan cara menuliskannya.


 
Home | Produk | Alamat Kontak | Management | Bisnis Link | Artikel Teknik


Peralatan Up-Link & Down Link

Pada prinsipnya peralatan up link terdiri dari 5 komponen sebagimana terlihat dalam gambar 1(a), yaitu:

                1. Video Encoder
                2. DVB Modulator
                3. Up-Converter
                4. HPA atau SSPA
                5. Antenna Parabola

Video Encoder berfungsi sebagai mesin kompresi (dalam format MPEG2 atau MPEG4) dan jika audio/video inputnya berupa sinyal analog maka Encoder ini sekaligus berfungsi sebagai peralatan digitalisasi. Tujuan dari kompresi sinyal ini adalah untuk menghemat bandwidth. Sekedar contoh, video input dalam format SDI memiliki data rate sekitar 270 Mbps (kualitas: SD bukan HD), namun setelah di-encode menggunakan mesin MPEG2 data rate-nya bisa turun menjadi 6 Mbps. Lebih tepatnya bisa turun menjadi 2 Mbps hingga 10 Mbps tergantung kebutuhan.

Selanjutnya sinyal yang sudah terkompresi itu dimasukkan ke dalam DVB Modulator untuk ditumpangkan kedalam sinyal pembawa. Frekuensi sinyal pembawa ini berada di sekitar 70 MHz, atau lebih tepatnya 70 MHz ± 18 MHz yang berarti frekuensi pembawa ini bisa diatur mulai dari 52 MHz hingga 88 MHz tergantung kebutuhan.

Setelah itu sinyal pembawa yang telah termodulasi itu oleh Up-Converter digeser frekuensinya ke frekuensi kerjanya, yaitu sesuai dengan nomor transponder dan slot frekuensi yang telah ditentukan. Dengan kata lain Up-Converter berfungsi untuk menentukan nomor transponder, sedangkan pengaturan frekuensi di Modulator adalah untuk menentukan pada frekuensi berapa (dalam satu tansponder itu) sinyal pembawa tersebut harus ditempatkan. Terakhir adalah parameter polarisasi sinyal, dan perangkat yang menentukan polarisasi ini ada pada feed horn antena. Feed horn bisa diputar-putar sedemikian rupa sehingga diperoleh polarisasi yang tepat.

Jika bandwidth, frekuensi dan polarisasi sudah sesuai dengan yang dikehendaki maka sinyal ini sudah siap untuk dipancarkan ke arah satelit (up link) melalui antena parabola. Kemudian agar bisa sampai ke satelit yang berjarak 36 ribu kilometer di atas bumi, sinyal yang masih lemah ini perlu diperkuat terlebih dahulu. Perangkat yang berfungsi sebagai penguat adalah HPA (High Power Amplifier). Ada dua jenis HPA, yaitu amplifier yang berbasis tabung atau TWTA (Travelling Wave Tube Amplifier) dan amplifier yang berbasis solid state transistor atau SSPA (Solid State Power Amplifier). TWTA dan SSPA adalah sama-sama amplifier. Fungsinya adalah sebagai penguat sinyal. Tidak lebih dari itu. Tentu saja keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan untuk mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan kedua jenis amplifier ini bisa disimak dari artikel TWTA Vs. SSPA yang ditulis oleh Howard Hausman di "Microwave Product Digest" edisi bulan Januari 2008.

Setelah diperkuat oleh TWTA atau SSPA, sinyal kemudian diperkuat lagi oleh antena parabola. Jadi selain untuk memancarkan sinyal, antena parabola juga berfungsi sebagai penguat sinyal. Gelombang elektromagnetik yang bersifat menyebar ke segala arah oleh piringan parabola diarahkan ke satu titik tertentu, sehingga terjadilah pengumpulan energi ke satu arah tertentu. Pengumpulan energi inilah yang kemudian disebut dengan Gain Antena. Jadi dalam sistem Up-Link, penguatan sinyal tidak hanya dilakukan oleh amplifier tetapi juga oleh antena parabola.

Gambar 1 (a) Diagram blok perangkat Up-Link (b) Perangkat Up-Link dng BUC
(c) Perangkat Up-Link yang lebih sederhana

Antena Parabola adalah peralatan jenis outdoor, karena peralatan ini harus ditempatkan di luar ruang agar syarat "Line of Sight" dengan satelit dapat terpenuhi. Sementara itu pada frekuensi C-band (6 GHz) saluran transmisi yang digunakan harus sependek mungkin. Oleh karena itu perangkat dng output C-band harus ditempatkan sedekat mungkin dengan antena untuk mengurangi redaman. Sementara itu Up-Converter adalah peralatan elektronik jenis indoor yang sangat sensitif terhadap air hujan. Oleh karena itu akan sangat berresiko bila Up-Converter ini harus ditempatkan secara outdoor di dekat antena. Itulah sebabnya perangkat BUC kini lebih banyak disukai dibanding TWTA atau SSPA.

BUC (Block Up Converter) berisi SSPA dan sekaligus Up-Converter, dimana frekuensi inputnya adalah L-band (950 MHz - 1.450 MHz). Dengan frekuensi yang lebih rendah ini maka antara Modulator dan BUC bisa terpisah cukup jauh, karena Modulator umumnya ditempatkan di dalam ruang (indoor) sedangkan BUC di luar ruang (outdoor). Kemudian keduanya bisa dihubungkan dengan kabel coaxial yang cukup panjang (hingga 100 meter, tergantung tipe kabel). Hal ini menjadi mungkin karena BUC adalah rangkaian elektronik yang berbasis transistor, sehingga casing / housing-nya bisa dibuat dari bahan aluminium yang menyerap panas dan didesain kedap air, sedangkan untuk mengatasi disipasi panas casing sudah dilengkapi dengan sirip-sirip pembuang panas (heat sink) dan kipas angin dengan motor tanpa sikat (brush-less blower) yang tahan air. Itulah sebabnya BUC sangat aman untuk ditempatkan secara outdoor di dekat antena parabola [perhatikan gambar 1(b)].

Belakangan ini sudah banyak ditawarkan produk Encoder yang dilengkapi dengan modul DVB Modulator. Dengan demikian perangkat Up-Link menjadi lebih sederhana, praktis dan kompak [perhatikan gambar 1(c)]. Hal ini sangat diperlukan terutama untuk perangkat Up-Link jenis SNG yang memang harus didesain secara kompak, sederhana dan ringan.

Gambar 2: Diagram blok perangkat Up-Link & Down Link

Pada feed horn antena parabola umumnya sudah dilengkapi dengan dua port, yaitu port Up-Link dan port Down Link. Kombinasi dua buah port yang berfungsi sebagai pemisah dua sinyal dng polarisasi yang berbeda ini sering disebut dengan OMT (Ortho Mode Transducer). Dengan adanya fasilitas OMT ini maka pada jalur Down Link bisa dipasang LNB dan kemudian dihubungkan dengan IRD untuk menangkap siaran TV dari satelit (Perhatikan gambar 2 di atas).

Dalam sistem komunikasi dua arah, perangkat Up-Link dan Down-Link seperti ini merupakan suatu keharusan. Jika tidak, maka tidak mungkin akan terjadi komunikasi dua arah. Namun dalam siaran TV, sistem komunikasi umumnya hanya dilakukan satu arah. Satu pihak sebagai pemancar sedangkan pihak lain sebagai penerima saja. Konfigurasi perangkat Down-Link yang tanpa Up-Link dan berfungsi sebagai alat penerima siaran TV dari satelit sering disebut dengan TVRO (Television Receive Only). Pemasangan TVRO dalam perangkat Up-Link sebagaimana terlihat dalam gambar 2 di atas dimaksudkan untuk keperluan pengarahan antenna (pointing).

Sebelum antena parabola tepat mengarah ke satu satelit, perangkat Up-Link tidak boleh dinyalakan. Jika tidak, antena yang digerak-gerakan pada saat pointing bisa saja tanpa sengaja mengganggu satelit lain. Oleh karena itu keberadaan TVRO akan sangat membantu, mengingat sifatnya yang hanya menerima saja, sehingga pointing dapat dilakukan dengan aman dengan bantuan TVRO. Namun agar TVRO ini bisa menerima siaran TV yang free to air, beberapa parameter perlu diketahui, seperti: nama satelit, polarisasi sinyal, frekuensi down link, symbol rate dan FEC. Jika parameter ini sudah diketahui, dan 3 parameter yang disebut terakhir dimasukan ke dalam IRD, maka antena bisa digerak-gerakan untuk diarahkan ke satelit yang dituju. Pada saat IRD sudah mengeluarkan gambar berarti arah antena itu sudah benar. Makin baik kualitas penerimaannya (bisa dilihat dari level sinyal dan nilai Eb/No nya) berarti arah antena dan polarisasinya sudah mendekati tepat. Setelah itu barulah perangkat Up-Link bisa dinyalakan, dan selanjutnya cross-pole harus dilakukan untuk memastikan bahwa polarisasinya sudah tepat. Jadi dalam hal ini TVRO merupakan alat bantu yang sangat praktis untuk keperluan pointing.

Di jaman dulu, pointing harus dilakukan dengan alat bantu yang disebut dengan Spectrum Analyzer. Alat ini selain harganya mahal juga sangat sulit dioperasikan. Dulu ketika satelit hanya digunakan untuk keperluan telekomunikasi saja, tidak ada alat bantu lain kecuali Spectrum Analyzer. Namun ketika stasiun-stasiun TV kini sudah banyak yang memanfaatkan satelit untuk mendistribusikan siarannya, maka TVRO menjadi alat bantu yang sangat praktis dan murah untuk keperluan pointing. Fasilitas TVRO benar-benar sangat membantu, terutama bagi teknisi SNG dimana pemasangan SNG ini sering kali harus berpindah-pindah tempat, dan dalam waktu yang relatif singkat harus siap on-air.

Artikel selanjutnya: Portable SNG

Ditulis oleh Dwi Ananto Widjojo @ PT. Dua Wijaya Teleinformatika © Mei 2012